Lagi bingung nie,. bibit di Pre Nursery udah umur 4 bulan tapi belum dipindahkan ke Main NUrsery,.. gara-gara ngak ada plan dari awal.. semua salah dilimpahkan kepada diriku..
Jadi untuk sementara harus ngejar pemasangan instalasi sumisansui untuk pengairan di MN,. mudah2an aja bisa cepat selesai...
okeyyyy..
Rabu, 05 Mei 2010
Kamis, 25 Desember 2008
BIBIT JAMUR KECAP
Kecap adalah cairan hasil fermentasi bahan nabati atau hewani berprotein tinggi di dalam larutan garam. Kecap berwarna coklat tua, berbau khas, rasa asin dan dapat mempersedap rasa masakan. Bahan baku kecap adalah kedelai atauikan rucah. Yang paling banyak diolah menjadi kecap adalah kedelai.
Mula-mula kedelai difermentasi oleh kapang (aspergillus sp dan Rhizopus sp) menjadi semacam tempe kedelai, kemudian “tempe” ini dikeringkan dan direndam di dalam larutan garam. Garam merupakan senyawa yang selektif terhadap pertumbuhan mikroba. Hanya mikroba tahan garam saja yang tumbuh pada rendaman kedelai tersebut. Mikroba yang tumbuh pada rendaman kedelai pada umumnya dari jenis khamir dan bakteri tahan garam, seperti Zygosaccharomyces (khamir) dan Lactobacillus (bakteri). Mikroba ini merombak protein menjadi asam-asam amino dan komponen rasa dan aroma, serta menghasilkan asam. Fermentasi tersebut terjadi jika kadar garam cukup tinggi, yaitu antara 15 sampai 20%.
Kecap dibuat melalui fermentasi campuran kedelai dan padi-padian sperti gandum dan penambahan garam. Ada kecap yang dibuat dengan metode kimia dengan menggunakan asam untuk menghidrolisis protein dan karbohidrat. Pada pembuatan kecap dengan fermentasi biasa memanfaatkan jamur Aspergillus oryzae maupun Aspergillus sayoe. Untuk memperbanyak jamur ini caranya secara singkat adalah sebagai berikut:
Kedelai direbus sampai kulitnya mudah dikupas
Kedelai didinginkan kemudian dikupas kulit arinya
Kedelai yang sudah dikupas direndam selama 24 jam
Kedelai dikukus untuk sterilisasi
Kedelai didinginkan, kemudian diberi ragi (Aspergillus Oryzae)
Siapkan nampan yang sudah dilubangi, kemudian kedelai ditempatkan pada nampan
Tutup nampan tersbeut dengan plastic yang sudah dilubangi
Perevusab diusahakan pada suhu tinggi dengan waktu yang singkat. Penggunaan terigu mengurangi hasil nitrogen dalam kecap tetapi memberi citarasa dan aroma yang lebih baik.
Biakan starter harus dapat memberi aroma dan citarasa yang khas mempunyai kemampuan proteolitik, amilolitik yang tinggi dan mudah dibiakkan. Biakan murni mula-mula dibiakkan pada nasi terisah 3-5 hari pada suhu 30 0 Csampai nasi tertutup spora kemudian dikumpulkan. Penggunaan starter 0.1 – 0.1 % untuk menginokulasi campuran kedelai dan terigu. Campuran yang telah diinkulasi kemudian diratakan dalam kotak kayu setebal kurang lebih 5 cm diinkubasi pada suhu ruangan. Setelah 24 jam campuran tertutup kapang yang berwarna putih. Dengan laju pertumbuhan kapang, suhu campuran menjadi naik sampai 40 0 C atau lebih. Oleh karena itu perlu dibalik dan berulang-ulang diaduk. Untuk mempertahankan suhu lengas dan aerasi yang seragam, campuran harus bebas dari gumpalam untuk menekn pertumbuhan bakteri sekecil mungkin. Dengan naiknya waktu inkuasi, kapang tumbuh terus dan pertumbuhan berubah menjadi kuning dan hijau. Lengas campuran turun secara perlahan. Setelah inkubasi 72 jam campuran berkapang siap digunakan.
Mula-mula kedelai difermentasi oleh kapang (aspergillus sp dan Rhizopus sp) menjadi semacam tempe kedelai, kemudian “tempe” ini dikeringkan dan direndam di dalam larutan garam. Garam merupakan senyawa yang selektif terhadap pertumbuhan mikroba. Hanya mikroba tahan garam saja yang tumbuh pada rendaman kedelai tersebut. Mikroba yang tumbuh pada rendaman kedelai pada umumnya dari jenis khamir dan bakteri tahan garam, seperti Zygosaccharomyces (khamir) dan Lactobacillus (bakteri). Mikroba ini merombak protein menjadi asam-asam amino dan komponen rasa dan aroma, serta menghasilkan asam. Fermentasi tersebut terjadi jika kadar garam cukup tinggi, yaitu antara 15 sampai 20%.
Kecap dibuat melalui fermentasi campuran kedelai dan padi-padian sperti gandum dan penambahan garam. Ada kecap yang dibuat dengan metode kimia dengan menggunakan asam untuk menghidrolisis protein dan karbohidrat. Pada pembuatan kecap dengan fermentasi biasa memanfaatkan jamur Aspergillus oryzae maupun Aspergillus sayoe. Untuk memperbanyak jamur ini caranya secara singkat adalah sebagai berikut:
Kedelai direbus sampai kulitnya mudah dikupas
Kedelai didinginkan kemudian dikupas kulit arinya
Kedelai yang sudah dikupas direndam selama 24 jam
Kedelai dikukus untuk sterilisasi
Kedelai didinginkan, kemudian diberi ragi (Aspergillus Oryzae)
Siapkan nampan yang sudah dilubangi, kemudian kedelai ditempatkan pada nampan
Tutup nampan tersbeut dengan plastic yang sudah dilubangi
Perevusab diusahakan pada suhu tinggi dengan waktu yang singkat. Penggunaan terigu mengurangi hasil nitrogen dalam kecap tetapi memberi citarasa dan aroma yang lebih baik.
Biakan starter harus dapat memberi aroma dan citarasa yang khas mempunyai kemampuan proteolitik, amilolitik yang tinggi dan mudah dibiakkan. Biakan murni mula-mula dibiakkan pada nasi terisah 3-5 hari pada suhu 30 0 Csampai nasi tertutup spora kemudian dikumpulkan. Penggunaan starter 0.1 – 0.1 % untuk menginokulasi campuran kedelai dan terigu. Campuran yang telah diinkulasi kemudian diratakan dalam kotak kayu setebal kurang lebih 5 cm diinkubasi pada suhu ruangan. Setelah 24 jam campuran tertutup kapang yang berwarna putih. Dengan laju pertumbuhan kapang, suhu campuran menjadi naik sampai 40 0 C atau lebih. Oleh karena itu perlu dibalik dan berulang-ulang diaduk. Untuk mempertahankan suhu lengas dan aerasi yang seragam, campuran harus bebas dari gumpalam untuk menekn pertumbuhan bakteri sekecil mungkin. Dengan naiknya waktu inkuasi, kapang tumbuh terus dan pertumbuhan berubah menjadi kuning dan hijau. Lengas campuran turun secara perlahan. Setelah inkubasi 72 jam campuran berkapang siap digunakan.
Rancangan Penyuluhan Pemanfaatan Urin Sapi Sebagai Pupuk Organik Terhadap Produksi Jagung (Zea mays L) Varietas Arjuna di Kecamatan Besuki Kabupaten S
RINGKASAN
Heri Susanto (07. 1. 2. 04. 0595) Jurusan Penyuluhan Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang, Juni 2008. (Dibawah bimbingan Drs. Sudjianto, M.Pd dan Achmad Nizar SST.,M.Sc)
Kaji widya bertujuan untuk menetapkan penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair yang tepat dalam proses pertumbuhan dan produksi jagung varietas Arjuna. Penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair ditetapkan sebagai materi penyuluhan dengan memperhatikan kondisi sasaran maka ditetapkan teknik, media dan metoda dalam suatu rancangan penyuluhan yang diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan pada petani jagung tentang penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair yang mampu mempertahankan hasil produksi jagung.
Kaji widya dilaksanakan dilahan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang, tepatnya pada lahan instalasi peternakan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang pada ketinggian ± 450 dpl, dengan curah hujan rata- rata 277 mm/bulan, dan kelembaban 83% (Data Klimatologi Kabupaten Malang, 2007). Kaji widya dimulai pada akhir bulan Januari sampai dengan akhir bulan April 2008, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan Ao (Tanpa pupuk urin sapi/ control = Urea: 50 g/2 m2, SP-36: 40 g/2 m2 dan KCL: 15 g/2 m2), perlakuan A1 200 cc pupuk urin sapi, perlakuan A2 400 cc pupuk urin sapi, perlakuan A3 600 cc pupuk urin sapi.penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair pada perlakuan A1 (200 cc dengan pengenceran air 2 liter) mampu mempertahankan nilai produksi jagung varietas Arjuna dengan nilai produksi pipilan keringnya (ppk) adalah 58,73 Kw/Ha jika dibandingkan dengan nilai produksi jagung vatietas Arjuna menggunakan pupuk anorganik dengan nilai produksi pipilan keringnya (ppk) yang berkisar antara 50-60 Kw/Ha.
Dengan demikian perlakuan A1 (200 cc dengan pengenceran air 2 liter) ditetapkan sebagai materi dalam penerapan Rancangan Penyuluhan dengan spesifikasi: (1) materi sesuai dengan kondisi wilayah yaitu untuk mempertahankan nilai produksi jagung dengan menggunakan pupuk organik. (2) sasaran pada kontak tani dan petani terutama yang sering menanam tanaman palawija utamanya tanaman jagung dengan tingkat pendidikan SD sampai dengan SLTA. (3) komunikator adalah pelaksana kaji widya. (4) metode adalah ceramah, diskusi dan demonstrasi cara dengan tehnik pendekatan kelompok dan tehnik komunikasi secara langsung. (5) media yang digunakan adalah folder, foto hasil kaji wdya dan benda sesungguhnya. (6) evaluasi, untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan daya serap materi oleh petani sasaran
Kata kunci: Rancangan penyuluhan, Urin sapi, pupuk organik, produksi jagung.
Heri Susanto (07. 1. 2. 04. 0595) Jurusan Penyuluhan Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang, Juni 2008. (Dibawah bimbingan Drs. Sudjianto, M.Pd dan Achmad Nizar SST.,M.Sc)
Kaji widya bertujuan untuk menetapkan penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair yang tepat dalam proses pertumbuhan dan produksi jagung varietas Arjuna. Penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair ditetapkan sebagai materi penyuluhan dengan memperhatikan kondisi sasaran maka ditetapkan teknik, media dan metoda dalam suatu rancangan penyuluhan yang diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan pada petani jagung tentang penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair yang mampu mempertahankan hasil produksi jagung.
Kaji widya dilaksanakan dilahan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang, tepatnya pada lahan instalasi peternakan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang pada ketinggian ± 450 dpl, dengan curah hujan rata- rata 277 mm/bulan, dan kelembaban 83% (Data Klimatologi Kabupaten Malang, 2007). Kaji widya dimulai pada akhir bulan Januari sampai dengan akhir bulan April 2008, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan Ao (Tanpa pupuk urin sapi/ control = Urea: 50 g/2 m2, SP-36: 40 g/2 m2 dan KCL: 15 g/2 m2), perlakuan A1 200 cc pupuk urin sapi, perlakuan A2 400 cc pupuk urin sapi, perlakuan A3 600 cc pupuk urin sapi.penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik cair pada perlakuan A1 (200 cc dengan pengenceran air 2 liter) mampu mempertahankan nilai produksi jagung varietas Arjuna dengan nilai produksi pipilan keringnya (ppk) adalah 58,73 Kw/Ha jika dibandingkan dengan nilai produksi jagung vatietas Arjuna menggunakan pupuk anorganik dengan nilai produksi pipilan keringnya (ppk) yang berkisar antara 50-60 Kw/Ha.
Dengan demikian perlakuan A1 (200 cc dengan pengenceran air 2 liter) ditetapkan sebagai materi dalam penerapan Rancangan Penyuluhan dengan spesifikasi: (1) materi sesuai dengan kondisi wilayah yaitu untuk mempertahankan nilai produksi jagung dengan menggunakan pupuk organik. (2) sasaran pada kontak tani dan petani terutama yang sering menanam tanaman palawija utamanya tanaman jagung dengan tingkat pendidikan SD sampai dengan SLTA. (3) komunikator adalah pelaksana kaji widya. (4) metode adalah ceramah, diskusi dan demonstrasi cara dengan tehnik pendekatan kelompok dan tehnik komunikasi secara langsung. (5) media yang digunakan adalah folder, foto hasil kaji wdya dan benda sesungguhnya. (6) evaluasi, untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan daya serap materi oleh petani sasaran
Kata kunci: Rancangan penyuluhan, Urin sapi, pupuk organik, produksi jagung.
Langganan:
Postingan (Atom)